KAAAAAAA..... MEEEEEE... HHHAAA... MEE... HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.......................................
hosh., hosh., hosh., hfffftttttttttttttttt..... pyuuuuhhh.,
Wah.,tanahnya sampai berlubang seperti terkena batuan meteor..
Apaaaa?????? Dia (musuh) masih bergerak setelah terkena KAMEHAME-ku??!!@%*$}
Aaaaaarrrgggghhhhhhhh.,tidak!!!! Aku harus menyerangnya kembali..
ciiiiiattttttt.,,, kaaaaa...meee..haaa..meee,,,haaaaaaa.,
suuuuuuiiiiiinnggggg.,. jegeeeerrrrrrrr.,duarrrrr.,
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Inilah gambaran apabila kita menuruti amarah kita. Kita kesal akan seseorang. Kita menyerangnya dengan amarah kita, keluarlah kata-kata kotor yang seharusnya tak keluar dari mulut kita. Tenaga pun terkuras, rahang pun menjadi pegal, alis pun naik seperti alis angry bird, mulut pun berbusa dengan ludah (iuhhh., jorok), dan lebih parah kita akan menimbun kotoran dalam hati (hmmm...).
Saat kita puas mengeluarkan kata-kata yang tiada guna, bagus apabila ada yang mengalah. Sebaliknya, ternyata musuh (didramatisir agar lebih seru : orang yang bertengkar dengan kita) balik menyerang kita. Maka, "jurus kamehame" akan kita keluarkan untuk kedua kalinya dengan sia-sia.
Sebenarnya tak ada untungnya mengeluarkan "jurus kamehame", akan lebih baik kalau kita menahannya. Berpikirlah bijak, pikirkan kembali apabila kita akan menuruti amarah. Benar orang berkata, "diam itu emas", diam bukan berarti pengecut melainkan salah satu sikap bijaksana yang terkadang harus kita lakukan.
